Dampak dan Risiko BNPL
Citra Wulandari
Citra Wulandari
| 03-02-2026
Science Team · Science Team
Dampak dan Risiko BNPL
Tombol "Buy Now, Pay Later" (BNPL) di toko online kini terasa hampir tak tertahankan: dapatkan barang hari ini, cicil biayanya, dan lanjutkan hidup.
Bagi banyak orang yang menghadapi harga kebutuhan sehari-hari yang semakin tinggi, sistem ini tampak seperti penyelamat.
Namun, kemudahan itu bisa menipu. Apa yang terlihat sebagai keuntungan sementara bisa berubah menjadi beban jangka panjang yang menekan dompet.

Kenapa BNPL Bisa Meledak?

BNPL berkembang pesat karena menggabungkan kenyamanan dengan psikologi belanja. Membagi pembayaran menjadi empat kali atau lebih membuat harga terasa lebih ringan, meskipun totalnya sama. Sensasi "dapat sekarang, bayar nanti" mendorong orang untuk menambah barang ekstra atau membeli lebih cepat daripada yang direncanakan. Saat momen belanja puncak, efek ini semakin kuat karena promosi dan penawaran terbatas menambah tekanan pada pengunjung.

Dampak Bagi Retailer

Bagi toko, BNPL menarik karena bisa meningkatkan konversi dan ukuran keranjang belanja. Penyedia layanan sering melaporkan bahwa rata-rata nilai pesanan lebih tinggi saat BNPL ditawarkan, karena konsumen merasa lebih sedikit hambatan saat checkout. Bagi retailer yang menghadapi persaingan ketat dan konsumen yang berhati-hati, dorongan ini sangat menggoda. Namun, ada risikonya: pelanggan yang membeli lebih banyak hari ini bisa jadi pelanggan yang lebih lemah di masa depan.

Biaya Untuk Retailer

BNPL tidak gratis bagi toko. Penyedia pihak ketiga biasanya mengenakan biaya merchant yang bisa melebihi biaya transaksi kartu standar, terutama untuk kategori dengan risiko pengembalian atau penipuan yang lebih tinggi. Artinya, toko mungkin harus mengeluarkan biaya lebih besar hanya untuk memenangkan penjualan dari pelanggan yang sebenarnya sudah terbatas kemampuan belanjanya. Strategi ini bisa mahal dan hasilnya tidak selalu menjamin loyalitas pelanggan.

Pemeriksaan Kredit yang Ringan

Salah satu kekhawatiran besar adalah kemudahan membuka beberapa rencana BNPL. Banyak penyedia menggunakan pemeriksaan yang lebih ringan dibandingkan kredit tradisional, dan persetujuan bisa terjadi dalam hitungan detik. Saat pinjaman mudah didapat, konsumen bisa menumpuk beberapa cicilan di toko berbeda. Individu bisa merasa setiap cicilan ringan, tetapi jika dijumlahkan, beban ini bisa sangat menekan.

Lonjakan Penggunaan

Survei konsumen menunjukkan banyak pengguna BNPL pernah mengalami masalah, seperti belanja berlebihan atau keterlambatan pembayaran. Banyak orang telah mencoba BNPL setidaknya sekali, dan sebagian besar membawa lebih dari satu rencana dalam setahun. Kombinasi pertumbuhan dan penggunaan berulang ini membuat risikonya semakin tinggi.

Pertumbuhan Pinjaman

Analisis lintas negara menunjukkan ekspansi BNPL yang cepat di banyak pasar. Data digital juga memproyeksikan pengeluaran BNPL yang sangat besar pada momen belanja utama, menegaskan seberapa cepat cicilan ini bisa berkembang.

Celakanya Data yang Tersembunyi

Selama bertahun-tahun, banyak rencana BNPL tidak muncul di laporan kredit tradisional, membuat utang ini mudah terlupakan, baik oleh konsumen, pemberi pinjaman, maupun pengelola anggaran rumah tangga. Kini pelaporan mulai membaik, tapi cakupannya masih tidak merata. Akibatnya, konsumen mungkin tidak melihat gambaran lengkap tentang utang dan jadwal pembayaran mereka.

Saat Masalah Muncul

Masalah biasanya muncul saat arus kas mulai menipis. Survei konsumen menunjukkan sebagian besar pengguna BNPL pernah mengalami satu atau lebih masalah: belanja berlebihan, keterlambatan pembayaran, penyesalan, atau kesulitan mengurus pengembalian barang. Biaya keterlambatan dan pembatasan akun bisa muncul, dan mengatur banyak tanggal jatuh tempo bisa membuat rencana sederhana menjadi sumber stres. Analis kredit konsumen menekankan bahwa jebakan terbesar BNPL adalah belanja berlebihan karena cicilan kecil membuat pembelian terasa lebih mudah dibenarkan.
Dampak dan Risiko BNPL

Pengguna Muda

Generasi muda cenderung memilih BNPL karena terasa lebih terstruktur dibandingkan kredit bergulir, dan persetujuan lebih mudah bagi mereka yang memiliki sejarah kredit terbatas. Namun, penelitian menunjukkan kelompok ini memiliki tingkat keterlambatan yang lebih tinggi. Hal ini wajar, karena pendapatan yang tidak stabil dan cadangan keuangan yang kecil membuat cicilan "kecil" pun sulit ditanggung.

Repotnya Pengembalian Barang

Pengembalian barang bisa sangat membingungkan di bawah cicilan. Refund mungkin tiba setelah beberapa pembayaran sudah diproses, menyebabkan saldo negatif sementara, kredit tertunda, atau kebingungan tentang jumlah yang masih harus dibayar. Jika hanya sebagian barang dikembalikan, jadwal cicilan bisa berubah tanpa disadari. Jadi, catatan yang jelas dan pelacakan pembayaran sangat penting.

Risiko Bagi Retailer

Toko menghadapi risiko reputasi dan operasional ketika pelanggan merasa terjebak. Meskipun pinjaman dimiliki pihak ketiga, konsumen sering mengaitkan frustrasi dengan toko itu sendiri. Lonjakan keterlambatan pembayaran bisa mengurangi daya beli di masa depan, membuat penjualan BNPL hari ini sebenarnya diambil dari pembelian yang seharusnya terjadi besok.

Cara Aman Menggunakan BNPL

BNPL bisa aman jika digunakan dengan aturan. Batasi rencana cicilan hanya untuk kebutuhan yang bisa diprediksi, bukan barang impulsif. Anggap total harga barang sudah terpakai dan pastikan setiap tanggal jatuh tempo sesuai dengan anggaran bulanan. Jangan menumpuk banyak cicilan sekaligus, dan gunakan pembayaran otomatis hanya jika dana selalu cukup di akun.

Kesimpulan

BNPL terasa menyenangkan karena membuat belanja terasa tanpa sakit. Untuk retailer, ini bisa meningkatkan penjualan; bagi konsumen, bisa menyebarkan biaya. Namun, biaya merchant tinggi, pemeriksaan ringan, laporan terbatas, dan masalah pembayaran yang umum bisa mengubah kenyamanan menjadi utang mahal. Sebelum menekan tombol "Bayar Nanti," pastikan anggaran siap menanggung semua cicilan tanpa kejutan!